Renungan : Antara “Takdir Tuhan” dan “Usaha Manusia”

30Okt08

Ada sebuah cerita yang pernah diberikan oleh guru saya waktu masih duduk di bangku SMP. Ceritanya itu berisi sebuah renungan mengenai hubungan “Takdir Tuhan” dengan “Usaha Manusia”.

Kurang lebih ceritanya kayak gini. Alkisah(cie….kayak jadi lampau banget) Tuhan Telah memberi takdir kepada dua orang manusia sebelum mereka dilahirkan. Takdirnya itu adalah keduanya akan menjadi seorang dokter. Tidak bisa diubah pokoknya mereka akan menjadi dokter. Seiring berjalannya wakyu, akhirnya kedua manusia itu dilahirkan. Sama seperti manusia lainnya, mereka pun menjalani kehidupannya sampai tibalah masa mudanya.

Budi (manusia satu) mengisi dan menjalani kehidupannya dengan sebenar-benarnya. Shalat lima waktu tidak pernah dia tinggalkan. Dia tidak pintar-pintar amat, tapi kalau masalah ketekunan luar biasa giatnya. Kalaumasalah rengking, tidak pernah dia berada di zona degradasi. Malahan dia sering ada di kelasmen atas. Kadang di  puncak kelasmen, kadang di posisike dua, kadang juga di posisike tiga. (Lho kok kayak liga sepak bola).

Kuna (manusia dua), biasa dipanggil Kun.  Masa mudanya itu sangat timbal balik dengan Budi. Agamanya tidak jelas. Ngakunya sih Islam, tapi shalatnya lebih banyak yang bolong dari pada yang dikerjakan. Begitu pula dalam hal pelajaran. Sebenarnya sama seperti Budi, dia juga tidak pintar-pintar amat. Tapi yang bedaitu Budi nya rajin, sedangkan dia malas (banget). Sehingga yang awalnya tidak pintar-pintar amat berubah menjadi amat tidak pintar-pintar.

Akhirnya keduanya tiba pada masa “penganugrahan” takdir Tuhan itu. Ya…..memang benar takdir tuhan yang telah diberikan dahulu tidak berubah,tetap, keduanya menjadi seorang dokter. Namun ada perbedaan perlakuan antara kedua manusia itu. Budi dengan usahanya yang gigih berhasil mendapat gelar “Dr.” di depan namanya. Sekarang dia dipanggil Dr. Budi (dokter Budi). Sedangkan Kun dengan usahanya yang bisa dibilang nihil juga mendapatkan gelar di depan namanya yaitu “Du”. Sekarang dia dipanggil Du Kun (baca: dukun) atau mbah dukun.

Meski dokter dan dukun memiliki kesamaan yaitu mengobati orang yang sakit. Namun sudah jelas, dipandang dari segi kehormatn dan pendapatan, jelas dokter lebih tinggi daripada dukun.(Maaf tanpa ada rasa merendahkan pekerjaan suatu pihak)

Jadi mungkin seperti itu ceritanya dengan cukup banyak perubahan dari saya. Sekali lagi saya meminta maaf jika ada pihak yang merasa disakiti atau dilecehkan. tulisan ini hanya sebuah cerita fiktif yang mungkin bisa menjadipelajaran bagi kita.

http://www.siddiqbasid.wordpress.com



One Response to “Renungan : Antara “Takdir Tuhan” dan “Usaha Manusia””

  1. 1 ahmed

    percaya qodlo n qodar WAJIB HUKUMNYA, kita bisa merubah taqdir kita,tapi atas izin Allah (karena Allah menetapkan taqdir dalam ukuran yang sama di antara manusia) tinggal sejauh mana usaha kita…Ok, Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu, jdi bukan hal yang sulit bagi Allah tuk merubah takdir kita,n tentunya untuk memudahkannya harus dengan usaha kita.Al Lail: 5 – 10
    23 Juli 2009 @ 21:06


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: